‪4,040 views‬

Tantangan di Bawah Air

pwowSelain memberikan sensasi perasaan takjub yang tidak terlupakan. menyelam juga memberikan pengalaman seru berjumpa dengan mahluk hidup penghuni dasar lautan. Seringkali perjumpaan terjadi begitu saja dan tidak terbayangkan. Perasaan ‘deg-degan’ selalu muncul setiap akan memasuki dunia bawah air.  Berjumpa dengan mahluk laut yang kharismatik merupakan impian bagi setiap penyelam, namun apabila kita tidak pernah berpikir atau membayangkan sebelumya akan berjumpa, tentu menjadikan pengalaman tersebut spektakuler dan tidak terlupakan. Namun di bawah air kadangkala penyelam juga mengalami kondisi menantang yang mendebarkan bahkan mengerikan, seperti menghadapi cuaca buruk, arus bawah yang datang tidak terduga, hewan berbahaya bahkan terancamnya hidup kita. Sinking. Istilah untuk arus atau pergerakan masa air ke bawah dikarenakan adanya perbedaan berat jenis masa air di permukaan dengan masa air di dasar perairan. Pengalaman ini terjadi saat menyelam di lokasi pemijahan ikan di pulau Indihiang, Taman Nasional Komodo. Saat kami entry perairan begitu tenang. Kami menjumpai ikan kerapu kentang (Potato cod) berukuran 110cm, ikan Napoleon jantan yang mencapai ukuran 140cm serta beberapa ekor ikan kerapu ekor bulan. Tidak berapa lama saya mendengar suara air seperti di sungai, gemericik makin lama makin jelas. Hanya dalam 10 menit setelah kami entry tiba-tiba kami seperti berada di sungai, arus datang menyapu kami ke arah dasar laut dengan kuat. Saat itu juga air membawa kami ke bawah dengan cepat, secara reflek tangan bebatuan dan mencari perlindungan di bongkahan batu atau lekukan dasar. Beberapa menit lamanya harus mencari tempat yang aman karena air banyak masuk melalui mouthpiece regulator. Setelah menyesuaikan diri kami pun mulai merayap naik ke tempat yang lebih dangkal. Butuh perjuangan untuk merayap naik, apalagi arus makin kuat dan tak jarang batu yang kami pegang tidak kuat menahan berat saya dan peralatan selam. Pada saat mencapai kedalaman 5 meter kami mulai bisa sedikit bernafas normal karena arus mulai melambat. Penyelaman di lokasi ini memberikan saya pengalaman berharga bagaimana kita harus mampu membaca keberadaan arus dan bagaimana menghadapinya apabila harus berjumpa disaat kita sudah berada di kedalaman. Penting sekali bagi penyelam menjaga ketenangan dan tidak mudah panik. Sepersekian detik kita terlambat untuk berlindung, kita dapat hanyut di ke dasar laut yang biru. Cuaca Buruk. Kejadiannya saya alami saat menyelam di daerah yang sama sekali belum pernah ada penyelam datang menyelam di lokasi tersebut di bagian utara Kepulauan Raja Ampat. Saat itu merupakan penyelaman terakhir dan hari mulai sore. Sebelum turun saya berpesan kepada boat captain bahwa kami akan menyelam selama 45 meni dan meminta boat captain tetap mengawasi perairan dan gelembung udara kami untuk berjaga kalau keadaan darurat karena hari mulai gelap dan mulai berangin. Penyelaman kami memang sudah kami duga, banyak ikan kerapu bergerombol menjelang mereka memijah pada saat bulan baru. Ikan kerapu macan dan sunu dalam jumlah banyak berenang beriringan jantan dan betina dengan perut bunting. Ikan Napoleon berenang di terumbu serta seekor ikan Barakuda besar diam mengawasi ikan-ikan di ujung terumbu. Waktu terasa begitu cepat dan kami naik ke permukaan. Sesampai di permukaan gelombang sudah setinggi 1 meter dan boat kami tidak terlihat. Saat boat terlihat, kami mencoba memanggil dan memberi tanda kepada orang di boat dengan menggunakan pelampung tanda dan peluit. Hari makin gelap dan arus membawa kami ke tempat lebih jauh dari posisi boat dan kami pun sudah lelah meniup peluit. Setelah 20 menit mencoba memanggil boat, akhirnya boat melihat kami dan kami bisa pulang dengan selamat. Sengatan Portuguese Man of War. Saya mengikuti pembersihan bintang mahkota berduri atau Crown of Thorn starfish di pantai pulau Sebayor bagian barat bsersama masyarakat dan pegawai TNC – sebuah lembaga konservasi laut yang berkantor di Labuan Bajo. Saat mengumpulkan hewan pemakan karang ini, tiba-tiba lengan kanan saya terasa panas sekali seperti ada yang menyengat. Saya mencoba lihat apa yang melekat, seperti benang yang bening dengan totol-totol biru yang panjang melilit lengan saya. Dengan tangan kiri saya mencoba melepaskan lilitannya, hal ini malah menambah parah karena seperti lem benang bertotol biru itu pun melekat di lengan kiri. Kejadian ini sangat cepat dan saya berteriak minta tolong dengan panik. Beberapa detik kemudian aku merasakan paru-paruku tidak dapat bernafas. Mulutku kubuka lebar-lebar dan mencoba menghirup udara sekuatku namun tetap tidak dapak bernafas saat bersamaan pinggang dan sekujur tubuh terasa terbakar. Teman-teman kemudian memanggil dinghy kami untuk mendekat. Dengan susah saya dinaikkan ke atas dinghy dan dibawa ke kapal induk. Saya dibaringkan di lantai kapal yang menuju ke Labuan Bajo sambil digosokkan cairan cuka di tempat yang tersengat. Saya berusaha keras untuk bernafas dan membuka mulut. Saat itu saya minta diberikan air minum, namun itu justru membuat tenggorokan saya seperti tertutup. Bayangan kematian sudah berada di pikiran saya waktu itu. Saya dibawa ke puskemas Labuan Bajo begitu mendarat di pelabuhan. Saya sudah tidak ingat kapan waktunya tetapi saya menyadari saya sudah dapat bernafas kembali saat berada di puskemas, saya merasa saya akan selamat. Saya dibawakan buah kelapa hijau dan saya diminta meminum airnya. Tidak susah saya meminumnya, langsung saya habiskan air kelapa hijau 2 buah sekaligus. Hari itu kebetulan pesawat masih sisa 2 seat sehingga saya diterbangkan ke Bali untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Si cantik ikan lepu atau Lion fish menjadi daya tarik bagi penyelam karena sirip dan pola warna serta berenang dengan anggun di kolom air. Kecantikannya telah menggoda saya untuk mengamati dari dekat. Sambil melakukan safety stop saya mendekati lobang tempat ikan ini biasa bersembunyi di batu Gililawa Laut. Saya lihat lobangnya kosong dan hanya seekor udang pembersih yang nampak. Saya tidak menyadari ikan yang empunya lobang sedang mencari ceweknya di luar. Mengetahui saya berada di depan tempat istirahatnya ikan ini langsung masuk ke lobang dengan cepat, tanpa permisi si ikan menabrak ibu jari saya dengan sirip punggungnya yang beracun. Tak ayal saya berteriak seketika. Racun dan tusukan duri sirip punggungnya begitu keras dan sakitnya membuat jantung saya berdetak begitu hebatnya. Reflek tangan saya menekan pangkal ibu jari tangan saya dan terlihat cairan kental berwarna hijau tua keluar dari tangan saya yang tertusuk. Perlahan saya naik ke permukaan sambil memberikan kode ke teman saya untuk segera naik. Begitu berada diatas boat tangan saya sudah mulai terlihat bengkak. Saya meringis menahan sakit yang amat. Boat kemudian meluncur ke Loh Liang dimana terdapat kantin. Tangan saya kemudian direndam dalam air panas, dimana saya bisa bernafas lebih enak. Begitu air mulai dingin tanganpun kembali berdenyut dan menjadi sangat bengkak. Selama 2 minggu tangan saya bengkak oleh si cantik ikan lepu yang beracun. Reef-sharks merupakan jenis ikan hiu yang hidup di perairan dan berasosiasi dengan terumbu karang. Beberapa jenis hanya aktif di malam hari namun ada juga jenis-jenis hiu ini yang aktif di siang hari. Sebagai predator ikan hiu biasanya memangsa fauna laut yang mempunyai teritori atau wilayah “kekuasaan”, sehingga apabila ada jenis lain yang memasuki wilayah “kekuasaan”nya ikan hiu tersebut akan berusaha mengusirnya. Pengalaman ini terjadi saat saya dan mitra saya menyelam di Batu Tiga, perairan Komodo. Lokasi penyelaman yang satu ini merupakan lokasi yang sulit karena kondisi arusnya yang sulit. Tidak banyak penyelam yang mau menyelam disini dikarena dibutuhkan pengalaman menyelam dan pengetahuan tentang lokasi dan arus yang benar-benar baik. Batu Tiga merupakan salah satu lokasi penyelaman hebat untuk keanekaragaman jenis dan jumlah ikan yang bisa dilihat. Mulai dari ikan karang yang kecil dan hidup di terumbu karang seperti ikan kepe-kepe, kakatua, kakap, beronang, sampai ikan pelagis, mobile dan besar seperti kerapu raksasa, napoleon, pari manta dan hiu. Seringkali saya menjumpai kelompok ikan kuwe dalam jumlah yang besar mengakibatkan cahaya matahari tidak menembus dasar laut. Bentuk dasar laut disini pun luar biasa, bongkahan batu dan lembah di dasar laut menambah kesan mendalam mengenai lokasi ini. Saat kami berada pada kedalaman 25 meter, muncul di depan kami ikan hiu abu-abu dengan panjang 2,5 meter dengan menampakkan wajah yang agresif. Ikan tersebut melalui saya dan mitra saya. Tidak lama kemudian muncul kembali dari depan dan lewat hanya berjarak 2 meter di depan kami. Saya yang sedang mengagumi raja laut tersebut menjadi sadar ternyata terdapat 3 ekor ikan hiu abu-abu yang berenang mengitari kami dan menunjukkan bahasa tubuh yang menyukai kehadiran kami di situ. Ketiga ikan hiu tersebut mengitari kami beberapa kali, sampai saya dan mitra saya memutuskan untuk segera menjauh dari tempat tersebut dan naik ke permukaan. Secara perlahan kami berpindah sambil terus mengamati ikan-ikan hiu tadi. Saat kami mencapai 10 meter mereka sudah tidak mengikuti kami dan kami bisa bernafas sedikit lega. Pertunjukan belum selesai karena seekor ikan hiu sirip putih menunggu kami di kedalaman 9 meter. Namun ikan tersebut bukanlah ikan yang baru kami jumpai, ikan tersebut biasa kami temui di dasar berbatu dan senantiasa sedang menikmati waktu istirahatnya. Kami hanya minta permisi untuk lewat dan kami segera ke 5 meter untuk safety-stop. Squeeze Telinga saya ini terjadi ketika dalam suatu perjalanan penyelaman di lokasi yang sangat jauh dan waktu terbatas tiba-tiba saya kesulitan melakukan equalizing. Saya mencoba naik lebih dangkal namun tetap gagal. Saya coba paksakan dan menahan sakit  yang saya rasakan di telinga saya dan menyelam lebih dalam. Saat kembali di permukaan saya merasakan seperti sulit mendengar pada telinga kanan. Sesampai setelah seminggu gangguan pendengaran saya makin membuat saya tidak nyaman karena sulit mendengar. Akhir saya pergi ke ahli THT dan memeriksakan telinga saya. Saya dirujuk untuk melakukan fisioterapi setiap hari selama satu bulan. Beruntung telinga saya dapat mendengar dengan baik kembali. Suatu pengalaman berharga bagi saya bahwa sesering atau sebanyak apapun kita melakukan penyelaman, kita dituntut untuk menjaga stamina dan kebugaran serta tidak memaksakan diri apabila dalam kondisi tidak sehat. Gangguan Sinus ini baru saja saya alami. Sama sekali saya tidak menduga setelah menyelam bertahun-tahun saya bisa mendapat gangguan pada sinus saya. Saat melakukan backroll entry saya merasakan sangat sakit diatas kedua mata saya. Sesaat saya mencoba menenangkan diri dan mencoba membuang ingus. Saat akan menyelam lebih dalam, kembali rasa sakit diatas mata saya menusuk bagaikan ratusan jarum sedang menghujam dahi saya. Saya coba tidak memaksakan diri dan menyelam secara perlahan melalui tali, tetapi rasa sakit yang menusuk tidak kunjung hilang sampai saya memutuskan tidak meneruskan penyelaman. Sehari kemudian saya baru menyadari bahwa saya mengalami pendarahan pada sinus saya saya karena saat membuang ingus yang terlihat ingus saya berwarna coklat kemerahan. Saya berharap sedikit informasi diatas bisa menjadi catatan dan pelajaran bagi penyelam maupun calon penyelam bahwa dimanapun kita menyelam, kita tidak boleh takabur dan selalu waspada baik dengan kondisi kesehatan kita maupun lingkungan penyelaman kita. Selalu menghormati penyelam lain maupun mahluk hidup dan lingkungan dimana kita menyelam. Waspada Dira Anuraga. 

Hewan berbahaya :

 

 

Komentar Facebook :

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

*