‪438 views‬

BERLATIH SCUBA DI PULAU PRAMUKA

Nama pulau Pramuka tentu sudah tidak asing bagi kebanyakan warga ibukota Jakarta. Pulau yang berpenduduk seribu jiwa ini memiliki luas mencapai 16 hektar. Sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, pulau Pramuka dapat dicapai baik dari pelabuhan Kali Adem, Muara Angke maupun Dermaga 17, Marina Ancol. Pulau Pramuka pernah disebut sebagai pulau Elang memiliki jarak kurang lebih 50 km dari Marina Ancol, wisatawan dapat menggunakan kapal cepat dengan menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Hari Sabtu dan Minggu merupakan puncak kunjungan wisatawan yang hendak menikmati keindahan pantai dan laut kepulauan Seribu atau pun melakukan kegiatan di alam seperti camping, mancing, snorkeling maupun scuba diving. Saat ini penggemar kegiatan snorkeling maupun scuba diving di Jakarta dan sekitarnya telah tumbuh sangat pesat. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang datang ke pulau Pramuka semakin bertambah.

Descent-on-Rope

Bagi penggemar kegiatan di alam, SCUBA diving telah menjadi salah satu trend bagi masyarakat di ibukota maupun kota besar lainnya di tanah air. Demikian juga bagi masyarakat di Cibubur, Jakarta Timur. Beberapa warga masyarakat yang gemar melakukan kegiatan alam di Cibubur membentuk komunitas bawah laut sebagai wadah bertukar pengalaman tentang kegiatan dan kehidupan bawah laut. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah berlatih SCUBA diving dan sertifikasi selam bersama klub selam Kafe Penyelaman. Setelah menyelesaikan latihan keterampilan menggunakan peralatan scuba di kolam dan belajar mengenai pengetahuan akademis penyelaman, tujuh anggota komunitas bawah laut Cibubur yaitu Ari, Sherly, Tania, Aydin, Mia, Lutfi, dan Keny berangkat ke pulau Pramuka didampingi pelatih Andre dan asisten pelatih Tika, serta Devo yang akan snorkeling. 

Perjalanan dimulai dari Dermaga 17 Marina Ancol, satu per satu kelompok penumpang yang akan berkunjung ke pulau Pramuka dipanggil dan dicatat petugas kapal cepat yang telah siap dari pukul 06:30. Setelah kapal terisi sesuai kapasitasnya, jam 08:00 kapal diberangkatkan menuju pulau Pramuka. Perjalanan laut kali ini cukup menantang karena angin timur bertiup cukup kuat mengakibatkan tingginya gelombang di perairan teluk Jakarta. Nahkoda kapal dengan terampil mengemudikan kapal cepat melalui punggung gelombang sehingga kapal tidak terbanting dan penumpang dapat menikmati perjalanan ini. 

1,5 jam menuju Pramuka terasa begitu singkat, para penumpang memasuki dermaga pelabuhan pulau Pramuka disambut oleh keramahan penduduk pulau yang bersahabat. Para petugas wisata sibuk memastikan logistik penumpang tidak tertukar dan terangkut ke penginapan. Sambil melemaskan otot-otot kami berjalan menuju penginapan menikmati suasana pulau Pramuka yang rapi dan teratur, terlihat bahwa kemajuan kota sudah masuk di pulau di barat laut kota Jakarta ini. Kantor pemerintah dan pusat pelayanan umum terlihat berdiri di sepanjang jalan menuju penginapan. Perhatian saya tertuju pada sebuah bangunan anjungan tunai mandiri sebuah bank pemerintah yang bercirikan kehidupan bawah laut, sangat cocok dengan pesan wisata di pulau ini. Para peserta latihan selam SCUBA di pulau Pramuka  cek in di penginapan yang asri sambil menikmati sejuknya minuman kelapa muda segar dan pemandangan pantai di pulau Pramuka.

Selesai persiapan peralatan, peserta menuju dermaga untuk naik boat yang akan membawa menuju ke lokasi penyelaman.  Penyelaman latihan di perairan terbuka ini dilakukan untuk menguji kemampuan para peserta baik yang berlatih sebagai penyelam one star SCUBA diver (A1) maupun two star SCUBA diver (A2). SCUBA adalah sebuah kata yang sering terdengar di kalangan pecinta aktifitas alam khususnya olah raga dan wisata bahari. SCUBA merupakan kependekan dari Self Contained Underwater Breathing Apparatus, diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari adalah sebuah perlengkapan yang dapat dibawa sendiri untuk bernafas di bawah air. Umumnya berisi udara biasa yang diberi tekanan tinggi pada sebuah tangki yang terbuat dari besi atau aluminium. Seseorang yang memenuhi syarat kesehatan dapat belajar dan berlatih melalui sebuah kursus, dan menjadi seorang penyelam scuba. 

Setelah mendaftar, para peserta berlatih berbagai ketrampilan mempergunakan alat scuba, mengatur daya apung, sistem mitra, komunikasi menggunakan isyarat tangan bagi peserta A1, serta menghitung jarak tempuh dan navigasi bawah air menggunakan kompas bagi peserta A2 di kolam renang. Pengetahuan akademis penyelaman pun diberikan kepada peserta untuk mengetahui dan memahami kondisi lingkungan penyelaman dan adaptasi yang perlu dilakukan bila berada di bawah air, pengetahuan tentang jenis-jenis hewan berbahaya, serta pengetahuan lain yang diperlukan bagi seorang penyelam scuba.

Dalam kondisi cuaca berangin seperti saat ini penyelaman dilakukan di lokasi yang terlindung dan tidak terlalu bergelombang. Penyelaman pertama dilakukan di sebelah barat pulau Panggang dimana boat cukup aman berlabuh. Mas Arief Prasojo dari kelompok Elang Ekowisata sebagai pemandu selam menyampaikan beberapa hal mengenai lokasi penyelaman dan prosedur darurat, sedangkan Andreas memberikan beberapa tugas yang akan dilakukan pada penyelaman ini. Para peserta pun satu per satu melakukan prosedur penyelaman, mulai dari pemakaian alat, sistem mitra, pengecekan alat hingga entry dari boat secara back-roll ke air. Penyelaman pertama dilakukan dengan mudah oleh semua peserta kecuali Keny yang mengalami hambatan di telinga saat melakukan ekualisasi. Ekualisasi adalah prosedur untuk melakukan penyesuaian tekanan didalam rongga telinga terhadap tekanan sekitarnya dengan cara menutup hidung dan meniupkan udara hingga terasa ada udara mengalir di rongga telinga kita. Timbulnya hambatan umumnya disebabkan karena kondisi yang kurang fit atau sedang banyak mengeluarkan lendir sehingga saluran kecil yang menghubungkan rongga telinga dan rongga mulut tersumbat. 

Baca juga : Pelatihan SCUBA Diving

Lokasi penyelaman di pulau Panggang bagian barat ini memiliki kemiringan dasar yang sedang dan memiliki beragam bentuk pertumbuhan karang seperti karang masif, karang bercabang, karang lembaran daun, dasar perairan juga ditutupi oleh satwa dasar lainnya seperti spons, tunikata maupun alga berbentuk anggur. Dijumpai berbagai jenis satwa laut yang berenang seperti ikan kepe-kepe, ikan lalosi, dan ikan kakatua yang memiliki bentuk dan warna menarik. Perairan saat ini memiliki jarak pandang yang terbatas, sehingga disarankan tidak berada jauh dari mitra selam dan karena ini penyelaman pertama, pelatih meminta penyelam peserta pelatihan ini menyelam pada kedalaman maksimum 12 meter. Setelah 45 menit melakukan pengenalan lingkungan dan peralatan para penyelam naik ke permukaan dengan melakukan safety stop terlebih dahulu selama 3 menit di kedalaman 5 meter. Safety stop merupakan prosedur yang dilakukan untuk mengurangi gas yang terlarut di dalam tubuh saat melakukan penyelaman di kedalaman. 

Sambil melakukan Surface Interval atau waktu di permukaan antara dua penyelaman, penyelam beristirahat sambil makan siang di dermaga pulau Semak Daun yang terletak di sebelah barat pulau Panggang. Makan siang disajikan prasmanan sehingga para peserta dapat memilih lauk sesuai kegemarannya, sayangnya semua jenis lauk yang disajikan semuanya merupakan lauk favorit. Sambil menunggu penyelaman kedua peserta dapat bermain di pantai atau hanya menikmati keindahan Nusantara yang terletak di pulau ini. 

Penyelaman kedua dilakukan di pulau Air bagian barat, para peserta diuji untuk melakukan prosedur penyelaman baik dari atas boat, turun ke air dari boat dan melakukan prosedur descent dengan benar. Selanjutnya penyelam melakukan penjelahan di terumbu karang dengan buddy system atau berenang secara berpasangan dengan mitra selam. Bagi peserta calon penyelam A2 melakukan pengenalan komposisi dasar dan benda yang dijumpai dibawah air sebagai referensi navigasi alami. Para peserta yang tergabung dalam klub selam Kafe Penyelaman ini juga belajar mengenali satwa laut yang dijumpai untuk lebih memahami peran masing-masing komponen dalam ekosistem terumbu karang. 

Perairan di sebelah barat pulau Air memiliki jenis satwa laut yang beranekaragam baik satwa yang berenang seperti ikan karang yang berwarna-warni maupun karang dan satwa yang hidup di dasar perairan. Daya tarik di pulau Air ini sayang kalau dilewatkan pengunjung yang datang ke kepulauan Seribu khususnya ke pulau Pramuka. Saat yang sama terdapat 3 boat lain yang sedang melakukan penyelaman di lokasi ini. 

Perairan di barat pulau Air ini lebih terlindung sehingga jarak pandang lebih baik dari penyelaman pertama. hal ini dimanfaatkan para peserta untuk melakukan foto bersama dibawah air.

Penyelaman siang dan sore berjalan lancar dan boat berlayar menuju pulau Pramuka melintasi sebuah tunnel di dalam pulau Air. Pemandangan di dalam tunnel sangat kontras dengan perairan di luar pulau yang berangin. Boat berlayar pelan di perairan yang tenang di samping kanan kiri merupakan daratan yang ditumbuhi pohon cemara. 

Kami singgah di sebuah tempat bernama Nusa Keramba dimana kami bisa menjumpai beberapa ekor ikan besar yang dipelihara di dalam wadah, diantaranya ikan kuwe sirip biru, ikan kuwe raksasa dan hiu sirip hitam. 

Trip pulau Pramuka untuk berlatih SCUBA pada hari pertama masih akan berlanjut dengan penyelaman malam. Penyelaman malam bertujuan untuk dapat mengamati suasana dan kehidupan bawah laut yang berbeda. Selain jenis satwa laut yang aktif pada malam hari berbeda dengan satwa laut yang aktif pada siang hari, penyelaman malam juga dapat mengamati tingkah laku satwa laut tersebut. Sampai di dermaga kami mempersiapkan perlengkapan selam malam bagi peserta A2. Selain kompas bawah air penyelam membutuh senter selam untuk melakukan penyelaman malam. Entry penyelaman dilakukan dari dermaga di pantai, kemudian berenang ke bibir slope dimana kami memulai penyelaman malam dengan saling melakukan pengecekan mitra selam maupun kondisi dasar. 

Kondisi perairan di kawasan dermaga pulau Pramuka sebagian besar adalah pasir yang ringan dan mudah terangkat sehingga membuat jarak pandang makin pendek apabila kurang berhati-hati saat  mengayuh fin. Sesaat berada di kegelapan bawah laut hti terasa jengah, namun hal ini tidak berlangsung lama saat senter selam kita memberikan petunjuk dimana posisi kita berada, dengan demikian penyelam tidak merasa kebingungan atau disorientasi, sebaliknya mulai dapat mengenali satwa-satwa yang dijumpai membuat penyelaman malam menjadi semakin menantang. 

Beragamnya jenis satwa laut yang aktif maupun sedang tidur yang dijumpai merupakan indikasi terumbu karang di pulau Pramuka mempunyai peran penting bagi komunitas perairan di dalam Taman Nasional Kepulauan Seribu ini. Selain ikan kepe-kepe juga dijumpai ikan ekonomis seperti ikan beronang (Siganidae) dan juga invertebrata laut seperti udang dan kepiting (Crustacea), teripang (Echinodermata), siput laut  serta cumi sotong (Mollusca). Selain satwa yang mempunyai fungsi ekologis yang penting, penyelaman malam ini juga menjumpai satwa langka, terancam yang dilindungi (Threaten, Endanger and Protected) yaitu penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) berukuran dewasa yang sedang tidur di sebuah lobang dibawah karang. 

Baca juga : Menjadi Penyelam dan Menjelajah Dunia Bawah Laut

Penyelaman malam di pulau Pramuka ini memberikan kesan indahnya kepulauan Nusantara tidak hanya bisa dinikmati saat siang hari, namun juga keindahan yang khas pun dapat dijumpai di bawah air saat malam hari. Kami kembali ke penginapan dimana sudah menunggu makan malam yang istimewa. Peserta menikmati santap malam sambil membicarakan pengalaman masing-masing saat menyelam hari pertama. Setelah memberikan arahan kegiatan di hari kedua, kami menuju kamar untuk beristirahat.

Jam 08:00 pagi kami melakukan penyelaman dalam untuk mengamati sebuah kapal karam yang terletak di depan dermaga pulau Pramuka bagi peserta calon penyelam A2. Kondisi kapal karam yang terletak di kedalaman 20an meter masih utuh dan beberapa bagian ditempelin satwa laut. Terlihat ikan pisau berenang di dekat bangkai kapal tersebut. kurang lebih 10 menit melakukan pengamatan di bangkai kapal kami pun berenang ke arah selatan sambil berenang ke tempat yang lebih dangkal. Depan dermaga di pulau Pramuka ini juga menjadi salah satu tempat berkumpul ikan maupun satwa laut lainnya. Satu kelompok ikan Batfish berenang melewati para penyelam. Bebrapa jenis nudibranch berwarna cerah juga kami jumpai. Salah satu peserta memberikan isyarat bahwa udara di tangki sisa 50 bar, sesuai kesepakatan kami pun berenang ke 5 meter untuk melakukan safety stop untuk kemudian naik ke permukaan. 

Bagi peserta calon penyelam A1 masih menyisakan dua kali penyelaman. Penyelaman pertama hari kedua ini dilakukan di tunnel pulau Air. Keny dan Lutfi dalam penyelaman ini sangat lancar melakukan beberapa keterampilan di bawah air seperti membersihkan masker selam, menemukan kembali regulator lepas serta bertukar udara kepada mitra selam menggunakan satu regulator. 

Perairan tunnel pulau Air hampir 95% dasarnya merupakan pasir, namun demikian ini menjadikan habitat bagi satwa laut unik. Selain karang keras kami menjumpai siput dan satu jenis nudibranch langka yang memiliki panjang 12 cm dengan perbandingan panjang dan lebar hampir sama. 

Penyelaman kedua di hari kedua dilakukan di Tanjung Elang, pulau Pramuka. Peserta penyelam A1 pada penyelaman LPT4 ini telah menyelesaikan tugas dengan baik, namun juga mendapat pengalaman mengenal satwa laut secara langsung dimana ini merupakan pengalaman seru yang tidak terlupakan. Lokasi penyelaman di Tanjung Elang memiliki sedikit arus dengan kemiringan slope mencapai 45o. Jenis karang meja dan karang masif bisa dijumpai di lokasi ini disamping gorgonian atau kipas laut. Keindahan perairan ini karena adanya ikan hias seperti ikan anemon maupun ikan karang lainnya. 

Setelah melewati uji keterampilan di perairan terbuka peserta  mengisi buku catatan penyelaman di logbook masing-masing yang bertujuan sebagai bukti telah melakukan penyelaman untuk kenaikan jenjang selam, terlebih dari itu logbook penyelaman juga bermanfaat sebagai dokumentasi pribadi dari kegiatan penyelaman yang telah dilakukan. Selamat bagi peserta uji perairan terbuka A1 yaitu Keny dan Lutfi, serta peserta uji A2 yaitu Ari, Sherly, Tania dan Mia. Pada trip penyelaman ini terdapat penyelam kecil yang belum dapat mendapat sertifikat dikarena belum memenuhi syarat umur yaitu Aydin serta Decvo sebagai junior snorkeler.

Bagi pengelola wisata bahari di Taman Nasional Kepulauan Seribu dan pulau Pramuka dan sekitarnya pada khususnya, perkembangan pariwisata perlu diantisipasi agar pariwisata memberikan dampak sekecil mungkin bagi lingkungan sekitarnya. Perlu dipasang pelampung tambat/ mooring buoy pada lokasi-lokasi penyelaman atau lokasi wisata yang banyak dikunjungi tamu wisatawan yang menggunakan perahu agar dampak kerusakan karang akibat jangkar dapat diminimalkan. Diharapkan manfaat yang dirasakan masyarakat juga dapat memberikan pengaruh positif bagi ekosistem perairan dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu.

Info terkait : Pulau Sepa Si Cantik..   .. Bawah Air Pulau Putri

Komentar Facebook :

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

*