Fish Quote Today

Tahukan kamu ikan badut (Anemonefish) tidak hidup di perairan Karibia (Caribbean)
‪409 views‬

Jurnal Perjalananku ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan

 

Oleh : Raja Gemilang Muljadi

Pagi-pagi pada tanggal 27 Mei 2018, pada pukul 2:30 di hari minggu. Keluarga saya bersiap-siap untuk pergi ke Kalimantan. Ibuku benar-benar ingin ke Kalimantan untuk melihat orang utan. Kita semua sibuk, saya mandi dan mengemas barang-barang saya yaitu IPad, earphone, boneka, dan sebuah buku. Setelah itu kita berangkat menggunakan taksi ke bandara.


Tiba di bandara, kita check in dan kita pergi ke ruang tunggu, disana kita menunggu pesawat. Sekitar jam 6 pesawat siap dan kita naik pesawat sambil membawa barang-barang kita. Pesawat terbang tinggal landas menuju ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Di pesawat saya mendengar musik dari Ipad-ku menggunakan earphone.
Tiba di bandara Iskandar kita ketemu sama mas Julham, tour guide kami dan rombongan lainya. Kita pergi menggunakan taksi ke Kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting, taman nasional dengan banyak sungainya. Tiba disana kita berkumpul di kapal kelotok – kapal kayu dengan dua dek dimana dek atas digunakan para penumpang untu duduk dan tidur serta makan selama perjalanan mengarungi sungai Kalimantan, yaitu KM Bima Sakti 2 di tepi sungai Kumai. Terus kita menunggu sampai rombongan kapal lengkap anggotanya.

Sesaat kemudian rombongan telah lengkap – antara lain: om Andrew dari Irlandia, om Tian dan tante Manik dari Bali, tante Ida dari Klaten, om Aldi dari Jakarta, tante Marlen dan om Sanggam dari Jakarta, serta kami berempat. Kami kemudian makan siang di atas kapal dengan menu: nasi dengan kari ayam goreng, oreg tempe, bihun, dan terong goreng tepung yang lezat. Kapal kemudian berlayar berkeliling memasuki sungai Sekonyer. Disana saya melihat monyet makaka, monyet Bekantan di pohon, serta orang utan yang sedang makan diantara pohon.


Kita makan siang. Dan sekitar pukul 2.30 siang kita berhenti di Tanjung Harapan, disana kita jalan kaki menuju tempat berkumpulnya orang utan untuk makan pisang. Dalam perjalanan di hutan banyak berjumpa bermacam anggrek dan juga tanaman kantong semar – sejenis tanaman pemakan serangga. Saat saya tiba saya melihat rombongan orang utan, ada induk betina orang utan dengan anaknya, dan orang utan jantan dewasa. Mereka pada duduk di sebuah panggung yang disediakan petugas di dekat pepohonan. Di atas panggung ada banyak pisang yang disediakan oleh petugas.

Setelah menonton orang utan lagi makan kita jalan kaki kembali ke kapal. Hari mau berakhir, jadi saya ganti baju di toilet kapal. Terus saya membaca buku yang saya bawa. Ceritanya tentang mainan-mainan yang bisa hidup. Saya berhenti membaca buku, terus makan sore, nasi putih dengan aneka masakan laut dan sayur kangkung dan kentang. Malam hari kami tidur di atas kapal, tempat tidur diatur oleh kru kapal dan masing-masing diberi kelambu untuk mencegah nyamuk masuk.

Keesokan hari pada hari Senin tanggal 28 Mei 2018 saya bangun dan membaca lanjutan bukuku. Saya berhenti baca buku untuk makan pagi. Setelah makan pagi nasi goring dan kentang goreng, kami melihat rombongan monyet Bekantan di atas pohon. Terus kami pergi ke tempat pemberhentian berikutnya yaitu pos Tanggui –berarti topi petani, untuk melihat orang utan lagi makan. Pertama-tamannya hanya ada seberapa betina dan anaknya lagi berkumpul. Terus datanglah seekor tupai yang ingin mencuri makanan mereka. Terus datanglah si orang utan jantan dewasa ke tempat perkumpulan orang utan lainnya. Sesaat ia datang, orang utan lainnya pergi kembali ke atas pohon. Saya sedikit bosan menonton si orang utan jantan dewasa makan sendiri, jadi saya jalan kaki kembali ke kapal.

Setelah yang lain selesai menonton orang utan, mereka pergi kembali ke kapal dan makan siang, yaitu nasi putih dengan ikan nila goring dan sayur labu dengan telur puyuh serta tempe goreng tepung dan cumi asam manis. Hidangan siang ini begitu nikmat setelah perjalnan pagi dan siang hari. Setelah makan siang kita pergi ke tempat pemberhentian berikutnya. Perjalanan menyusuri sungai Sekonyer ini begitu istimewa dimana kanan kiri pemandangan hijau hutan yang rindang dipinggir sungai penuh dengan tanaman air. Tanpa terasa kami telah tiba ke tempat pemberhentian berikutnya, yaitu camp Leakey. Kami kembali berjalan kaki sepanjang 2 km untuk melihat orang utan. Populasi orang utan di lokasi ini merupakan yang paling besar yang kami jumpai. Namun demikian kali ini orang utan jantan pemimpinnya tidak datang.
Saya pergi jalan kaki kembali ke kapal bersama romo dan kakak saya dan saya tiba lebih awal. Di kapal saya mandi terus baca buku sambil minum minuman soda yang dingin sambil menunggu yang lain untuk kembali ke kapal. Sesaat yang lain kembali ke kapal mereka mandi. Sore harinya hidangan menu khas Pangkalan Bun, yaitu Soto Manggala mengobati lapar kami. Soto ini terdiri dari ubi singkong dengan mie putih irisan telur dan daging ayam yang disiram dengan kuah soto yang nikmat dan segar. Kapal Kelotok kembali berlayar menuju muara sungai. Kapal berhenti di pinggir sungai dan kita makan malam sambil menikmati kelap kelip cahaya kunang-kunang yang berkumpul di pepohonan. Terus saya tidur.

Pagi hari, Selasa pada tanggal 29 Mei 2018. Kita makan pagi nasi kuning khas Pangkalan Bun, yaitu nasi kuning dengan tahu disiram saus kacang dan telur. Kapal berlayar kembali ke pelabuhan. Tiba di pelabuhan kami naik mobil keliling desa untuk mencari suvenir. Setalah pergi keliling desa kami singgah melihat Istana Kuning dan Istana Mangkubumi dan kembali ke bandara. Sampai jumpa.

Baca juga : Petualangan Seru Anak Krakatau

Komentar Facebook :

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

*