‪165 views‬

Keanekaragaman Hayati

Indonesia adalah salah satu negara tropis yang saat ini memiliki aset biologi yang sangat tinggi nilainya. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir banyak temuan species baru yang berhasil ditemukan dan dideskripsikan oleh para ahli biologi. Ratusan spesies ikan, udang, katak, kelelawar, dsb. ditemukan dan diberi nama ilmiah. Pertanyaan saya adalah berapa species baru tersebut yang ditemukan dan diberi deskripsi oleh ilmuwan kita, seperti dari Badan Riset Kelautan, LIPI, dan para ilmuwan dari Perguruan Tinggi di negeri kita. Tentu ada dong, tapi berapa jenis sih yang ditulis oleh putera-puteri kita? 50% nya? Kok belum yakin sampai segitu. 10%? Yah maybe.. maybe yes.. maybe no..


Ikan karang yang indah ini baru ditemukan secara ilmiah pada tahun 2006

 

Bagi saya, mendapat kesempatan bekerja pada lembaga konservasi kelautan internasional merupakan “sesuatu”. Saya bangga dan merasa sangat beruntung. Tahun 1998 saya memulai pekerjaan saya sebagai salah satu anggota tim pemantau biologi laut di Taman Nasional Komodo, tentunya Komodo belum lah setenar saat ini. Namun bagi saya Taman Nasional Komodo adalah batu pijakan saya dalam mempelajari ilmu kelautan dan konservasi laut.


Memulai karier sebagai pengamat ikan di Taman Nasional Komodo pada tahun 1998

 

Kata “Keanekaragaman hayati” atau dalam istilah asing nya Biodiversity mungkin jarang didengar atau diucapkan oleh para pejabat, politisi, bahkan jurnalis media elektronik maupun cetak di negeri kita ini. Bagi mahasiswa perguruan tinggi pun mungkin hanya digunakan oleh mahasiswa yang menekuni ilmu biologi, lebih sering ditulis atau dibaca atau diucapkan oleh kalangan tertentu khususnya yang bekerja di bidang konservasi, baik konservasi darat maupun konservasi laut. . Tahun 1998 adalah awal bagi saya pribadi dalam memasuki dunia penuh tantangan yang menjanjikan, yaitu “Keanekaragaman Hayati Laut” Betul, belajar Keanekaragaman Hayati itu tidaklah mudah, terutama bagi saya. Perlu waktu 6 bulan bagi saya untuk mengenal 11 jenis ikan kerapu dan 1 ikan napoleon. Bekerja selama 5 tahun di Taman Nasional Komodo belum menjadikan saya sebagai ahli ikan, saya masih belum apa-apa.. sesuatu kebetulan saya dipindahkan bekerja ke Raja Ampat. Awal 2000 an Raja Ampat baru saja terbuka dan menjadi suatu Hotspot bagi dunia Konservasi Kelautan, benar sekali – bagi ilmuwan kelautan dan konservasi, Raja Ampat adalah “Mega Biodiversity”.


Ikan Dottyback warna Kuning dan Ungu ini ditemukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih pada tahun 2008

 

Berkah dan Ujian, itulah jalan yang saya lalui. Saya mendapat kesempatan belajar lebih banyak jenis ikan dan biota laut. Banyak jenis-jenis baru yang belum pernah saya jumpai sebelumnya, ada di perairan Raja Ampat. Saya mencatat banyak species unik saat saya bekerja di Kofiau, Misool, Dampier, Batanta, Wayag sampai ke kepulauan Ayau.


Ikan jenis Amblyglyphidodon spp. ini baru ditemukan penulis dan memerlukan kajian lebih dalam untuk menguji apakah jenis baru atau variasi dari jenis yang telah ada.

 

Pada tahun 2008 saya mendapat kesempatan menjadi bagian dari tim ekspedisi kelautan untuk melakukan survei di perairan Halmahera dan Morotai. Sebagai penyelam dan pengamat ikan yang masih belajar, saya awam terhadap jenis-jenis ikan karang, karena waktu itu saya memang fokus pada ikan-ikan target ekonomi penting seperti ikan kerapu, ikan kakap dan ikan napoleon. Saat mengikuti survei saya berjumpa dengan ikan-ikan yang baru bagi saya dan beberapa diantaranya sempat saya rekam melalui kamera digital saya. Saya merasa sangat beruntung karena walaupun tidak menghasilkan gambar yang indah, namun potret-potret saya menjadikan saya memiliki perpustakaan foto ikan pribadi dan masih saya simpan hingga saat ini.


Ikan Kepe-kepe warna Biru dan Kuning ini ditemukan tahun 2010

 

Salah satu gambar ikan yang saya ambil pada survei tahun 2008 tersebut ada dalam tulisan saya ini. Saat berada di atas kapal survei tersebut saya mencoba memberi nama file gambar tersebut dengan nama spesiesnya tanggal gambar saya ambil. Saya membuka buku-buku identifikasi ikan yang ada di kapal, dan saya berhasil mendapatkan nama species ikan yang saya jumpai, yaitu Chrysiptera parasema. Namun baru-baru ini saya mendapatkan bahwa nama ikan yang saya jumpai tahun 2008 tersebut telah ditulis dengan nama baru pada tahun 2010, yaitu Chrysiptera arnazae.


Ikan Kepe-kepe moncong panjang Cenderawasih yang ditemukan pada tahun 2012

 

Sebagai penutup ingin saya sampaikan bahwa walaupun telah banyak jenis ikan baru dan biota laut baru yang sudah ditemukan, namun saya percaya laut Indonesia masih menyimpan banyak jenis ikan dan biota yang butuh untuk ditemukan dan ditulis oleh ilmuwan-ilmuwan Indonesia.


Pekerjaan peneliti ikan di terumbu karang Indonesia

 

Topik terkait lainnya :
Ikan Kepe-Kepe Moncong Panjang
The Fluorescence of Cuttlefish
Udang Bintik Merah
Ikan Matahari dari Nusa Penida
Barongsai Laut
Bulu Babi Selayang Pandang

Komentar Facebook :

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

*