38,593 total views,  22 views today

Bagi para penyelam, warna-warni pada karang dan fauna yang hidup di bawah laut merupakan daya tarik yang menakjubkan. Namun bagi para ilmuwan, warna-warni tersebut merupakan misteri dan pertanyaan mengenai apa dan bagaimana karang dan fauna laut tersebut menghasilkan warna-warni yang indah.

Saat berenang atau menyelam di perairan dangkal kita dapat melihat warna-warni pada karang dan fauna laut seperti anemon laut, ikan bahkan cacing laut. Pada karang, warna yang dihasilkan jenis satu dengan yang lain sangat beraneka ragam, bahkan pada jenis yang sama dan hidup berdekatan dapat memiliki warna yang berbeda. Demikian juga pada fauna laut seperti ikan, udang, siput laut, serta fauna lainnya, memiliki warna-warna dan corak yang indah dan unik. Apabila kita menyelam lebih dalam, maka beberapa warna terutama warna merah akan hilang dari mata kita, digantikan oleh warna biru dan abu-abu. Hal ini terjadi karena warna merah adalah warna yang diserap oleh air paling cepat.

Karang dan fauna laut lainnya, memiliki warna-warni tersebut tidak semata untuk mempercantik diri, namun memiliki fungsi antara lain: 1) untuk berkamuflase sehingga tidak mudah diketahui oleh mangsa atau predatornya – seperti pada ikan frogfish, pygmy seahorse, ghost pipefish, 2) warna-warni pada fauna laut juga dapat sebagai peringatan bagi fauna lainnya untuk tidak memangsa fauna tersebut karena mengandung racun – seperti pada siput kelinci laut atau nudibranch, 3) warna kuning kecoklatan pada karang merupakan warna yang berasal dari zooxanthellae – yaitu tanaman mikroskopis yang hidup bersimbiose di dalam karang yang berfungsi menyediakan makanan bagi fauna karang, 4) sebagian besar warna karang seperti warna hijau, merah dan ungu-biru berasal dari GFP – kependekan dari Green Fluorescent Protein, atau protein berupa pigmen warna karang yang bersinar hijau atau merah di bawah sinar ultra-violet – sebuah fenomena yang disebut fluorescence, protein warna tersebut berperan sebagai ‘tabir surya’ yang melindungi karang dari tekanan lingkungan seperti pemanasan air laut.

Ghost Pipe-fish

Picture 1 of 4

Perkembangan teknologi dan kemampuan manusia menciptakan senter yang dapat digunakan di bawah laut, memungkinkan penyelam dapat melihat warna-warna yang tersembunyi seperti warna merah. Demikian juga dengan fenomena fluorescence, warna hijau, merah, ungu-merah yang terdapat pada karang dan fauna laut lainnya dapat dinikmati dengan menggunakan cahaya ultra-violet dan kacamata yang dilengkapi dengan sebuah filter khusus. Pengalaman melihat karang dan fauna laut dalam warna-warna yang bersinar di kedalaman laut yang gelap merupakan keajaiban yang menjadi kenyataan dan menjadikan petualangan di bawah laut menjadi lengkap.


Para penyelam dapat mendukung perlindungan dan usaha pelestarian terumbu karang antara lain : 1) menjaga daya apung netral sehingga tidak mematahkan karang, 2) tidak memegang karang atau fauna laut lainnya, dan 3) membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Bagi pemerintah dan masyarakat dapat ikut melindungi ekosistem terumbu karang antara lain dengan 1) mencegah terjadinya polusi, 2) mencegah terjadinya sedimentasi, 3) mencegah tingginya nutrisi di perairan, serta 4) mencegah terjadinya penangkapan ikan dan fauna laut yang berlebihan.

Beberapa jenis Fauna Karang dijumpai saat malam :

Baca juga : Menjadi Penyelam dan Menjelajah Dunia Bawah Laut


Kafe Penyelaman

The Kafe Penyelaman is managed by a marine biologist and dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation. He traveled the archipelago such as Weh island, Mandeh waters, Riau islands and Belitung waters, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park, Karimunjawa National Park, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, Tanah Bumbu in South Kalimantan, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park, Lembeh strait, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park, Halmahera and Morotai waters, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park. He also did some regional and international visit such as Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, and Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.