3,372 total views,  8 views today

Bagi para penyelam maupun calon penyelam, kemampuan berkomunikasi menggunakan isyarat tangan merupakan suatu keharusan baik saat menikmati keindahan bawah laut maupun dalam menghadapi keadaan darurat. Berikut ini beberapa isyarat tangan yang digunakan saat menghadapi keadaan darurat, seperti kedinginan, telinga mengalami gangguan, kehabisan udara, hingga isyarat meminta bantuan berbagi udara serta isyarat membutuhkan bantuan saat di permukaan.

  1. Kedinginan
    Kedua tangan memeluk tubuh sendiri. Isyarat tangan ini dilakukan apabila penyelam mulai merasakan kedinginan. Kedinginan dapat terjadi apabila penyelam terlalu lama berada di air atau menggunakan pakaian pelindung yang kurang memadai atau pun penyelam dalam kondisi kurang sehat saat melakukan penyelaman. Penyelam yang merasakan kedinginan harus memberitahukan instruktur atau pemimpin penyelaman agar dapat kembali ke permukaan dengan selamat.
  2. Telinga Mengalami Gangguan
    Jari telunjuk menunjuk ke arah telinga diikuti isyarat Ada Masalah. Isyarat tangan ini digunakan saat penyelam mengalami gangguan pada telinga saat turun ke perairan yang lebih dalam (Descend) atau sebaliknya saat penyelam akan menunju ke perairan yang lebih dangkal. Gangguan ini biasanya terjadi karena penyelam menghasilkan cairan pada saluran antara rongga telinga dan rongga sinus sehingga terjadi sumbatan yang mengakibatkan penyelam gagal melakukan ekualisasi tekanan khususnya pada rongga telinga. Penyelam yang mengalami gangguan pada saat akan turun dianjurkan untuk berenang naik sedikit sambil melakukan ekuilisasi hingga berhasil. Apabila penyelam tidak dapat mengatasi gangguan ekualisasi ini atau gangguan pada telinga ini terus berlanjut sebaiknya tidak melanjutkan penyelamannya dan kembali ke permukaan secara perlahan.
  3. Kehabisan Udara
    Telapak tangan menghadap ke bawah di depan leher dan digerakkan ke arah kiri dan kanan berulang kali. Isyarat tangan ini digunakan saat penyelam kehabisan udara saat menyelam. Setelah melakukan isyarat tangan kehabisan udara ini, penyelam melanjutkan dengan isyarat tangan meminta bantuan berbagi udara kepada instruktur selam atau mitra selamnya dan dilanjutkan dengan memberikan isyarat tangan Naik ke Atas.
  4. Meminta Bantuan Berbagi Udara
    Tangan kanan memegang mouthpiece dan ujung jari-jari tangan kiri saling bertemu dan menunjuk ke mulut. Isyarat tangan ini dilakukan setelah penyelam memberikan isyarat kehabisan udara. Setelah menerima isyarat ini, mitra selam akan mendekat ke penyelam yang membutuhkan bantuan udara dan tangan kiri memegang jaket BCD sebelah kanan peminta bantuan udara, kemudian menghisap udara sebanyak 2 hirupan nafas kemudian memberikan Mouthpiece kepada peminta bantuan udara agar dapat menghirup udara sebanyak 2 hirup. Demikian dilakukan terus menerus sambil berenang ke permukaan dengan selamat. Apabila mitra selam yang memberikan bantuan udara dilengkapi selang Octopus, maka dia dapat memberikan bantuan udara dengan menggunakan Mouthpiece dari selang Octopus nya.
  5. Ada Bahaya
    Tangan lurus ke depan dengan jari mengepal. Isyarat tangan ini digunakan apabila penyelam ingin memberitahukan kepada penyelam lain bahwa sedang ada bahaya, seperti adanya arus kuat yang datang secara tiba-tiba.
  6. Butuh Bantuan Saat Di Permukaan Laut
    Salah satu tangan menunjuk kearah atas kemudian diayunkan ke permukaan air secara berulang kali hingga ada yang melihat. Isyarat tangan ini dilakuan saat penyelam berada dipermukaan dan membutuhkan bantuan.

Baca juga : Isyarat Tangan Bagi Penyelam Dari Penjuru Dunia

Semoga isyarat tangan diatas dapat dipelajari dan dilatih dan dapat digunakan pada saat dibutuhkan.

Utamakan Selamat!

Waspada Dira Anuraga

Baca juga : Mengenal 5 Isyarat Tangan Dalam Penyelaman

Pelajari juga : Isyarat Tangan Fauna Laut


Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Weh island- Aceh, Mandeh waters - Padang, Riau islands and Belitung waters, in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, and Tanah Bumbu Regency in Kalimantan region, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*