85,904 total views,  2 views today

Pulau Belitung atau Belitong, provinsi Bangka Belitung dikenal keindahan dan kekayaan alamnya. Belitong pernah menjadi penghasil timah. Lokasi dapat ditempuh selama 45 menit perjalanan udara dari bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menuju bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Wisatawan datang untuk menikmati keindahan bawah laut dan kulinernya yang merupakan unggulan wisata nasional.

Sebagai unggulan wisata nasional, terumbu karang negeri Laskar Pelangi ini memiliki keanekaragaman yang sangat mempesona, dan aneka makanan khas yang harus dicoba oleh setiap wisatawan yang berkunjung. Dari bandara kita menggunakan transportasi darat menuju Manggar, Belitung Timur. Sebelum melanjutkan perjalanan kita bisa singgah di restoran terdekat untuk melemaskan kaki sambil mencoba kuliner khas Belitung, salah satu menu wajib adalah Mie Belitong, terdiri dari mie kuning, irisan timun, bakwan, otak-otak udang, tauge dan kuah udang diberi krupuk emping mlinjo. Rahasia yang membuat mie ini berbeda dengan mie lainnya adalah terdapat pada kuahnya yang berasal dari kaldu udang asli ditambahi bumbu-bumbu pilihan. Mie ini sangat khas rasanya dan tidak ada di kota lain.

Sesampai di kota Manggar, Belitung Timur perjalanan wisata untuk menggali keindahan laut Belitung Timur ditempuh dengan kapal kayu menuju sebuah pulau dengan terumbu karang yang menawan. Selama perjalanan laut ini, kami dapat menikmati keindahan biru nya laut dibawah cakrawala. Lumba-lumba pun kegirangan mengiringi haluan kapal membelah air sambil berlompatan kian kemari. Akhirnya kapal bergerak perlahan menyisir terumbu karang di sekitar pulau Memperak. Warna warni terumbu karang memikat kami untuk lebih dekat menikmatinya. Perangkat SCUBA (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus) telah kami persiapkan dengan baik dan satu per satu kami masuk dengan melakukan Back-roll ke permukaan air.

Perairan pulau Memperak merupakan kawasan perairan yang telah dicadangkan menjadi kawasan konservasi perairan oleh pemerintah kabupaten Belitung Timur sehingga segala kegiatan pemanfaatan harus dilakukan sesuai zonasi yang telah diatur. Kegiatan wisata penyelaman merupakan kegiatan bersifat petualangan yang diperbolehkan selama tidak mengganggu keseimbangan ekosistem di dalamnya, seperti memindahkan atau mengambil biota yang berada di dalamnya. Para penyelam diharapkan dapat ikut menjaga kelestarian terumbu karang dan berbagai kehidupan yang hidup di dalam perairan pulau Memperak dengan jalan menjaga daya apung tetap netral dan menghindari menyentuh karang atau memegang fauna yang dijumpai. Berbagai jenis ikan berenang di antara karang karang yang berbentuk unik seperti lembaran daun, tanduk rusa dan juga meja.

Diantara ikan yang dijumpai terdapat jenis ikan ekonomis dan mempunyai harga yang tinggi di pasar ekspor ikan hidup yaitu ikan Napoleon atau Maming (Cheilinus undulatus). Ikan kupu-kupu beraneka warna menggoda untuk diambil gambarnya. Ikan kakatua dan ikan beronang yang berenang bergerombol menjadi tanda bahwa terumbu karang di perairan Memperak mempunyai daya pemulihan yang bagus apabila suatu saat terjadi kerusakan akibat perubahan iklim atau sebab lainnya. Kami pun tertarik dengan seekor penyu hijau (Chelonia mydas) yang sedang menikmati makan sorenya. Ikan badut menari diantara tentakel anemon laut yang berfungsi sebagai rumah sekaligus pelindung alaminya. 

Baca juga : Menjadi Penyelam dan Menjelajah Dunia Bawah Laut

Karunia keindahan dan kekayaan alam laut juga dirasakan oleh masyarakat Belitung Timur dengan melimpahnnya hasil ikan. Pulau Buku Limau merupakan salah satu pulau berpenduduk dimana sebagian besar merupakan nelayan  yang menggantungkan kehidupannya pada laut dan isinya. Keterbatasan teknologi menjadikan sebagian besar hasil laut diawetkan melalui pengeringan. Masyarakat pulau Buku Limau menjual hasil lautnya ke kota Manggar dan Belitung bahkan dikirim ke pulau Jawa. Sebagian masyarakat saat ini mulai beralih berusaha di bidang wisata dengan menyediakan jasa sewa kapal dan pemandu wisata. Keindahan alam perairan Belitung Timur ini  merupakan potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat dan pemerintah setempat apabila dikelola dengan baik. Setelah puas menikmati keindahan laut di Belitung Timur ini kapal kembali ke Manggar dan kami beristirahat.

Sore hari merupakan saat masyarakat Manggar dan Belitung berkumpul dan menikmati kopi di kedai-kedai kopi yang tersebar di seluruh pojok kota. Salah satu kedai kopi yang ramai pengunjung adalah Warung Kopi 1001 yang terletak di pusat kota. Kopi di Belitung Timur diolah secara khusus, memberikan aroma dan kenikmatan yang berbeda dibandingan kopi dari daerah lain di Indonesia. Setiap orang yang berkunjung ke Belitung Timur akan membuktikan kenikmatan kopi di sini. 

Rasa lapar setelah melakukan kegiatan di laut membuat kami ingin menikmati sajian khas Belitung yaitu nasi gangan kepala ikan. Gangan ikan berupa sup kepala ikan – ikan ketarap atau tusk fish (Choerodon sp.) dari kelompok family Labridae – yang disajikan dalam kuah kuning dengan potongan buah nanas. Rasa asam pedas manisnya yang khas menggugah indera rasa kita, apalagi saat mencium harumnya ketika dimasak. 

Perjalanan ke Belitung Timur lebih lengkap apabila dapat membawa oleh-oleh jajanan asli Belitung yaitu pempek. Berbeda dengan pempek yang dijumpai di daerah lain, pempek Belitung sangat terasa gurihnya dan wangi aroma  ikan. Wisata ke Belitung Timur ini merupakan pengalaman wisata yang sungguh menyenangkan bagi kami. Perpaduan petualangan bawah laut yang menantang dan kenikmatan sajian kuliner khas Belitung menjadikan kunjungan kali ini sangat berkesan dan tidak terlupakan. 

Foto Album Keindahan Wisata Belitung Timur

Topik menarik lainnya :
Petualangan Seru Anak Krakatau
Hebat! 10 Ikan Komersial ini menentukan Kesehatan Karang
Menghentikan Ancaman Kepunahan Ikan Napoleon, Mungkinkah?

Untaian Cincin Api Flores Timur

10 Isyarat Tangan Fauna Laut Bagi Penyelam
Yuk Belajar Identifikasi Ikan Karang
Selam dan Lestarikan Raja Ampat
9 Ikan Eksotis Paling Dicari Penyelam

Categories: Perjalanan

Kafe Penyelaman

The Kafe Penyelaman is managed by a marine biologist and dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation. He traveled the archipelago such as Weh island, Mandeh waters, Riau islands and Belitung waters, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park, Karimunjawa National Park, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, Tanah Bumbu in South Kalimantan, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park, Lembeh strait, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park, Halmahera and Morotai waters, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park. He also did some regional and international visit such as Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, and Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.