6,650 total views,  4 views today

Gunung AdonaraSalah satu mimpi saya saat belajar menyelam adalah mengunjungi perairan timur Flores, yaitu pulau-pulau Adonara, Solor, Lembata, Pantar dan Alor. Mimpi ini menjadi suatu kenyataan saat saya menghadiri sebuah pertemuan di kediaman kolega saya dan berjumpa beberapa kawan lama. Kami saling bercerita mengenai kawasan-kawasan terumbu karang yang pernah kami selami. Tanpa saya duga kawan saya menawarkan saya untuk bergabung dalam sebuah perjalanan eksplorasi sumber daya di kawasan timur Flores. Perjalanan ini menjadi istimewa karena menggunakan salah satu kapal liveaboard paling bagus di Indonesia yaitu The Sevenseas. Perjalanan eksplorasi ini sangat menarik bagi saya karena saya akan menyelam bersama Jos Pet – salah satu ahli kelautan terbaik khususnya dalam pengelolaan perikanan di Indonesia dan salah satu ahli dalam pemijahan ikan di dunia. Saya akan mendapat banyak kesempatan untuk berdiskusi dan mencari tempat agregasi pemijahan ikan baru bersamanya. Disamping itu bersama kami dalam perjalanan ini adalah Benjamin Khan – ahli cetacea dunia yang telah bertahun-tahun bekerja dan melakukan penelitian paus dan lumba-lumba di Indonesia. Perjalanan saya ini dibiayai oleh sebuah lembaga konservasi yang internasional – The Nature Conservancy, saya sendiri mewakili The Coral Triangle Center – sebuah lembaga pengembangan kapasitas di bidang konservasi laut di Indonesia.
Perjalanan eksplorasi ini dimulai saat matahari mulai condong ke barat, dari Maumere, kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur ke arah timur laut melewati pulau-pulau di teluk Maumere dan sepanjang pesisir pulau Flores bagian timur. Saya dan Mirza mendapat penjelasan mengenai aturan di atas kapal oleh Karl – pimpinan perjalanan di kapal Seavenseas. Hari pertama kami tiba di utara Adonara dimana gunung-gunung api yang masih aktif dapat kita saksikan dengan asap yang mengepul dari puncak-puncaknya yang menjulang bagaikan untaian cincin api di hamparan permadani lautan biru. Hari pertama perjalanan kami melakukan beberapa penyelaman eksplorasi. Penyelaman pertama kami lakukan di dua lokasi di Tanjung Wai Au dan menemukan bahwa lokasi penyelaman di sebelah barat laut dari Lembata ikan sudah berkurang tetapi masih menemukan beberapa hiu dan penyu. Penyelaman berikutnya di utara pulau Ipet, dimana Jos menghitung sekitar 20 hiu blacktip karang dan 3 hiu whitetip karang. Di samping itu kami menjumpai banyak ikan seperti kakap merah, sweetlips, dan kerapu – sebagai target perikanan komersial. Hal ini menunjukkan bahwa daerah ini masih memiliki rantai makanan yang sehat.
Ikan barakudaHari kedua kami membuat 2 penyelaman eksplorasi – penyelaman pertama di Nerin Wutun, lokasi ini di bagian utara teluk Lewoleba dan teluk Suba di barat daya pulau Lembata. Nerin Wutun merupakan lokasi dengan banyak biota unik seperti kelinci laut yang berwarna-warni, flasher-wrasse yang menari-nari di terumbu, udang mantis dan biota menarik lainnya. Penyelaman di teluk Suba merupakan penyelaman yang indah, kami menjumpai sekelompok ikan kakap, sweetlips, dan beberapa ikan kuwe dan kehidupan laut lainnya, seperti teripang kuning yang bercahaya dan kipas laut yang berbentuk seperti kipas. Selain melakukan penyelaman kami juga melakukan eksplorasi di perairan selat antara pulau Adonara, Solor dan Lembata dimana terdiri dari gunung-gunung laut yang kaya makanan bagi ikan laut.
Pada hari ketiga, penyelaman pertama dilakukan di teluk Labala pada sebuah pinnacle dimana dijumpai ikan ekor kuning, kakap merah, ikan kuwe serta ikan karang lainnya berenang di hamparan karang Tubastrea yang berwarna hijau dan kuning menyala. Penyelaman kedua, ketiga dan keempat kami mengeksplorasi tanjung Lusitobo yang didominasi terumbu pada dinding yang terjal penuh warna warni dengan ikan kerapu, kakap merah serta ikan kepe-kepe. Di lokasi ini kami juga berjumpa dengan kelompok ikan kakatua besar yang sedang mencari makan. Sore harinya The Sevenseas berlayar dan berlabuh di barat daya pulau Pantar. Keesokan harinya kami melakukan penyelaman di selatan pulau Kambing, Mecca dan barat daya pulau Marisa. Penyelaman hari ini merupakan penyelaman paling berkesan bagi saya dimana kami menemukan pemandangan bawah laut yang spektakuler dengan ikan-ikan dalam kelompok besar serta predator laut dalam formasi berburu, seperti ikan barakuda, ikan kuwe raksasa, serta kakap tengah malam.
Nurse SharkSeekor ikan hiu perawat yang besar kami jumpai sedang beristirahat dalam sebuah gua, demikian seekor pari marbel yang gemulai bermalas-malasan di dasar pasir. Hari kelima merupakan kegiatan eksplorasi bagi mamalia laut yaitu paus dan lumba-lumba. Kami mengawali perjalanan laut ini mulai pukul 6 pagi. Empat jenis paus dan lumba-lumba kami jumpai di perairan bagian selatan antara pulau Pantar dan Alor. Mereka ini adalah lumba-lumba spinner, paus sperma, paus pilot dan mungkin jenis paus berkepala melon. Paus dan lumba-lumba merupakan mamalia laut yang seluruh hidupnya berada di air. Kelompok hewan ini bernafas menggunakan paru-parunya, mengambil nafas saat mereka berada di permukaan air. Paus dan lumba-lumba mampu menyelam di dalam air dalam waktu yang cukup lama, bahkan seekor paus sperma dapat menyelam hingga 45 menit.

Kami menjumpai sekelompok paus sperma yang tengah melintas di laut Sawu ini dan menyaksikan paus-paus ini berenang di permukaan bahkan diantara melompat diudara. Sungguh pemandangan yang sangat jarang.

Hari keenam pagi saya dan Mirza harus mengundurkan diri dari ekspedisi ini karena harus melakukan tugas lainnya. Perjalanan saya kali ini memberikan bukti bahwa perairan laut Sawu khususnya di bagian selatan kepulauan Flores sampai ke Alor masih menyimpan potensi sumber daya laut yang penting baik dari sisi perikanan maupun daerah migrasi paus dan lumba-lumba. Sangat diharapkan perhatian yang sungguh-sungguh dari pihak-pihak yang kompeten untuk segera melaksanakan pengelolaan sumberdaya di perairan ini, jika tidak maka pemanfaatan tanpa mengindahkan aspek kelestariannya akan mempercepat kehancuran potensi kelautan di kawasan ini.

Koleksi Foto Timur Flores :

Baca Juga :
Koleksi Mug Marine Animal (Cangkir Fauna Laut)
Menjadi Penyelam dan Menjelajah Dunia Bawah Laut
Petualangan Seru Anak Krakatau
Scuba Intro To Non-Verbal Special Need Teenager
Tentang Divelog
Selam dan Lestarikan Raja Ampat
9 Ikan Eksotis Paling Dicari Penyelam

Categories: Perjalanan

Kafe Penyelaman

The Kafe Penyelaman is managed by a marine biologist and dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation. He traveled the archipelago such as Weh island, Mandeh waters, Riau islands and Belitung waters, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park, Karimunjawa National Park, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, Tanah Bumbu in South Kalimantan, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park, Lembeh strait, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park, Halmahera and Morotai waters, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park. He also did some regional and international visit such as Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, and Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.