4,466 total views,  24 views today

Perairan Indonesia merupakan sebuah kawasan dengan luas 325 juta hektar dan di dalamnya terdapat 17.499 buah pulau besar dan kecil. Laut Indonesia dengan pulau dan kawasan pesisirnya memiliki ekosistem penting, antara lain hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Ekosistem terumbu karang merupakan sumber utama perikanan dan daya tarik bagi pariwisata bahari Indonesia. Luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan 3,95 juta hektar, merupakan habitat bagi 590 jenis karang keras, 2.200 jenis ikan, 6 jenis penyu laut, duyung dan 30 jenis setasea.

Penting sekali ekosistem terumbu karang dapat dijaga dan dikelola agar terus memberikan manfaat baik secara ekologis maupun ekonomis. Hingga akhir tahun 2019, luas kawasan konservasi perairan Indonesia telah mencapai 23,14 juta hektar. Pengelolaan kawasan perairan melalui pembentukan kawasan konservasi maupun pengelolaan perikanan dan pengelolaan pariwisata bahari, memerlukan perangkat yang dapat memberikan penilaian terhadap kondisi ekosistem terumbu karang.

Penilaian kondisi ekosistem terumbu karang di perairan Indonesia telah dilaksanakan oleh berbagai lembaga baik dari pemerintah maupun non-pemerintah, antara lain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), The Nature Conservancy (TNC), Conservation International (CI), Wildlife Conservation Society (WCS), World Wide Fund for Nature (WWF) dan Coral Triangle Center (CTC).

Berikut ini tautan untuk mendapatkan protokol penilaian ekosistem terumbu karang dari berbagai lembaga yang bekerja di Indonesia.

Protokol Biofisik – Monitoring Kesehatan Karang CTC

Protokol Pemantauan Terumbu Karang untuk Menilai Kawasan Konservasi Perairan CTSP

Panduan Monitoring Kesehatan Terumbu Karang LIPI

Categories: Publication

Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Riau islands and Belitung waters, and Weh island in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands in East Kalimantan, Wakatobi National Park, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 open water divers.