12,884 total views,  83 views today

Sebagai pusat keanekaragaman terumbu karang dunia, laut Indonesia menyediakan bahan pangan bagi ratusan ribu nelayan tradisional dan merupakan salah satu sumber ketahanan pangan nasional. Terumbu karang di Indonesia juga merupakan pelindung alami pantai dari erosi gelombang, sumber devisa dari pariwisata, dan keanekaragaman hayati di dalamnya, hal ini mengakibatkan terumbu karang menarik pagi para peneliti dan pengelola kawasan konservasi perairan.

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan membentuk kawasan konservasi perairan (KKP), yaitu kawasan perairan yang dlindungi dan dikelola dengan sistem zonasi. Hai ini bertujuan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. Salah satu penilaian kinerja pengelolaan, perlu dilakukan pemantauan kesehatan terumbu karang, diantaranya menilai status ikan komersial pada suatu kawasan konservasi perairan.

Peta Zonasi Taman Wisata Perairan Raja Ampat

Ikan komersial merupakan jenis ikan bersirip yang mempunyai nilai ekonomis penting. Ikan ini hidup (sebagian atau keseluruhan hidupnya) di habitat terumbu karang. Habitat terumbu karang menjadi tempat mencari makan, berlindung, memijah dan sebagai tempat asuhan. Dengan demikian ikan karang tersebut dapat berpindah-pindah untuk memilih habitat dengan kondisi yang sesuai.

Hebat, 10 ikan komersial ini menjadi petunjuk yang akurat dalam menentukan status kesehatan terumbu karang karena kehadiran dan ketidakhadirannya pada habitat terumbu karang. Kelompok ikan tersebut terdiri dari 3 family atau keluarga ikan herbivora (ikan pemakan alga/ tanaman) dan 7 family atau keluarga ikan karnivora (ikan pemakan ikan atau hewan lainnya), antara lain :

  1. Ikan kulit pasir atau surgeonfish (Acanthuridae)

    Selain memiliki nilai ekonomis, ikan kulit pasir juga penting dalam ekosistem terumbu karang. Ikan kulit pasir merupakan herbivora yaitu pemakan tumbuhan yang menempel di batu-batu di dasar perairan. Permukaan dasar batuan yang bersih tersebut dapat digunakan anakan karang menempel dan hidup di dasar perairan. Ikan kulit pasir umumnya berukuran 18-40cm, namun ada yang dapat mencapai Panjang 60cm.
  2. Ikan kakatua atau parrotfish (Scarinae)

    Ikan kakatua merupakan salah satu jenis ikan karang yang banyak tersedia di pasar dan mempunyai nilai ekonomis. Seperti halnya ikan kulit pasir, ikan kakatua juga merupakan ikan herbivora. Ikan ini memiliki mulut seperti paruh yang berfungsi untuk menggerus permukaan karang sehingga ikan ini dapat makan alga yang hidup di dalam karang. Ikan kakatua umumnya mempunyai Panjang badan 18-40cm, kecuali ikan kakatua bam (Bumphead parrotfish) yang tubuhnya dapat mencapai panjang 120c.
  3. Ikan beronang atau rabbitfish (Siganidae)

    Ikan beronang banyak dijumpai di rumah makan yang menyajikan hidangan laut karena dagingnya banyak digemari karena kelezatannya. Ikan beronang juga merupakan ikan herbivora atau pemakan alga. Keberadaan ikan-ikan herbivora sangat penting dalam pemulihan ekosistem terumbu karang. Ikan beronang mempunyai panjang tubuh antara 20-30cm, namun ada yang dapat mencapai 45cm.
  4. Ikan gerot-gerot atau sweetlips (Haemulidae)

    Ikan gerot-gerot merupakan karnivora atau ikan pemangsa, naik ikan kecil maupun hewan  lain seperti udang-udangan atau siput laut. Ikan gerot-gerot merupakan salah satu ikan komersial dan memiliki nilai ekonomis. Ikan ini biasanya memiliki Panjang tubuh berkisar 30-50cm, namun ada yang dapat mencapai 100cm.
  5. Ikan kerapu atau grouper (Serranidae)

    Ikan kerapu atau geropa adalah salah satu ikan karang bernilai ekonomis sangat tinggi. Ikan ini banyak ditangkap untuk memenuhi permintaan restoran-restoran berkelas baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Ikan kerapu merupakan ikan pemangsa atau karnivora yang mudah ditangkap. Ikan ini sering berkelompok sehingga sangat mudah habis ditangkap kalau tidak dilindungi lokasi pemijahannya. Ikan kerapu umumnya berukuran 20-50cm, namun beberapa jenis dapat mencapai 120cm bahkan ikan kerapu raksasa dapat mencapai Panjang 200cm.
  6. Ikan kakap atau snapper (Lutjanidae)

    Ikan kakap sangat digemari di restoran-restoran maupun rumah tangga. Hal ini membuat penangkapan ikan kakap juga sangat tinggi. Sebagai ikan karang bernilai ikan ekonomis tinggi keberadaannya perlu dipantau dan menjadi salah satu ukuran keberhasilan pengelolaan KKP. Ikan kakap merupakan ikan karnivora atau ikan ini memangsa ikan lainnya. Ikan kakap mempunyai ukuran Panjang tubuh antara 20-40cm hingga 60cm. Ikan kakap dapat mencapai ukuran maksimum 90cm.
  7. Ikan lencam atau emperors (Lethrinidae)

    Ikan lencam merupakan ikan pemangsa ikan lainnya atau karnivora. Ikan ini memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan salah satu ikan karang yang menjadi target penilaian kesehatan karang. Ukuran ikan lencam antara 20-40cm dan dapat mencapai ukuran 70-100 cm.
  8. Ikan kuwe atau trevally (Carangidae)

    Ikan kuwe atau bubara merupakan ikan karang yang digemari sebagai ikan konsumsi maupun sebagai ikan target olahraga memancing. Ikan kuwe merupakan ikan perenang cepat dan pemangsa atau karnivora. Ikan ini juga merupakan target penilaian kesehatan karang. Seekor ikan kuwe berukuran antara 30-60cm, untuk ikan kuwe gerong dapat mencapai 170cm.
  9. Ikan tenggiri atau mackerel dan tuna (Scombridae)

    Ikan tenggiri dan tuna merupakan ikan karnivora yang sebagian hidupnya berada di terumbu karang. Ikan ini merupakan ikan komersial, selain dijual di dalam negeri juga banyak menjadi komoditi ekspor.  Ukuran Panjang ikan tenggiri dan tuna antara 60-100cm dan dapat mencapai lebih dari 150cm.
  10. Ikan maming atau napoleon wrasse (Labridae)

    Ikan maming atau napoleon merupakan primadona perdagangan ikan karang hidup.  Harga dan permintaan yang tinggi menjadi penyebab ikan ini banyak diperdagangkan. Ikan maming umumnya memiliki ukuran 60cm. Ikan maming dewasa dapat mencapai ukuran 225cm. Ikan maming merupakan ikan karnivora dan memiliki peran penting dalam ekosistem, sehingga sangat penting untuk dilakukan pengelolaan dalam perikanan ikan maming ini.


Topik terkait lainnya :
Geropa Laut Mikronesia
Udang Bintik Merah
Ikan Matahari dari Nusa Penida
Barongsai Laut
Colors of The Reef
Bulu Babi Selayang Pandang

Categories: Publication

Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Weh island- Aceh, Mandeh waters - Padang, Riau islands and Belitung waters, in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, and Tanah Bumbu Regency in Kalimantan region, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.