968 total views,  47 views today

Pandemi Covid-19 memberikan dampak bagi pariwisata Indonesia. Wisata selam merupakan salah satu kegiatan bisnis yang mengalami kerugian paling dasyat akibat wabah penyakit ini. Penurunan jumlah tamu dialami oleh semua operator selam. Hal ini memaksa para pengelola wisata selam mencari cara agar dapat terus bertahan.

Dalam beberapa pekan terakhir pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan sosialisasi tentang panduan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan Usaha Wisata Selam (4KLUWS). Panduan 4KLUWS dilaksanakan dalam rangka penyesuaian kegiatan selam dalam era yang baru (new normal), masyarakat diharapkan mematuhi protokol kesehatan untuk pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Selama pelaksanaan kegiatan selam dalam era baru ini, operator selam dan tamu wajib menerapkan protokol kesehatan. Protokol kesehatan secara umum yaitu menjaga jarak saat di darat, menggunakan masker muka sebelum dan setelah melakukan penyelaman, dan menjaga kebersihan tangan sebelum dan setelah menyelam.

Protokol new normal : Menjaga jarak & Memakai masker

Peralatan yang akan digunakan menyelam harus dibersihkan dan dilakukan disinfeksi mengikuti ketentuan yang direkomendasikan Divers Alret Network (DAN) serta agensi selam yang berwenang. Terdapat 3 bahan yang direkomendasikan, yaitu:

  1. Sodium hypochlorite
    Bahan ini memiliki nama lain NaOCl, klorin cair, atau pemutih pakaian. Cara penggunaan Sodium hypochlorite (NaOCl) atau pemutih pakaian sebagai disinfektan peralatan selam yaitu: Peralatan direndam selama 1-2 menit dalam larutan NaOCl 5,25% dengan perbandingan 25ml NaOCl/1 liter air. Setelah direndam alat dibilas dengan air tawar yang mengalir, kemudian dikering-anginkan di tempat terbuka (air dry).
    Catatan: Larutan harus baru dan hanya dipakai sekali. Larutan ini aman bila diencerkan dengan air. Bahan ini dapat berbahaya apabila dicampur dengan bahan kimia lain seperti larutan amonia, asam dan alkohol.
  2. Etanol
    Bahan kedua adalah Etanol atau alkohol. Cara penggunaan etanol untuk disinfektan peralatan selam adalah: peralatan direndam selama 1-2 menit pada etanol 70% tanpa dicampur apapun. Setelah selesai direndam dalam etanol, alat dibilas dengan air tawar yang mengalir. Alat kemudian dikering-anginkan di tempat terbuka (air dry).
    Catatan: bahan ini mempunyai bahaya karena termasuk bahan yang mudah terbakar dan dapat merusak bagian karet dari peralatan selam.
  3. Chloroxylenol
    Bahan kimia ketiga yang dapat digunakan untuk disinfeksi peralatan selam adalah Chloroxylenol. Bahan kimia ini dikenal juga sebagai kloroxilenol atau PCMX. Aturan pemakaian bahan ini sebagai disinfektan yaitu peralatan selam direndam selama 1-2 menit ke dalam larutan 4,8% kloroxilenol dengan rasio campuran 25ml kloroxilenol banding 1 liter air. Setelah selesai direndam, alat selam dibilas dengan air tawar yang mengalir. Kemudian alat selam dikering-anginkan di tempat terbuka (air dry).
    Catatan: Larutan harus baru dan hanya dipakai sekali.

Jenis Benda dan Waktu Virus Corona Dapat Bertahan:

No.Jenis BendaWaktu Virus bertahan
1Plastik2-3 hari
2Kertas4-5 hari
3Kaca4 hari
4Kayu4 hari
5Besi/ Baja nirkarat2-3 hari
6Tembaga4 jam
7Aluminium2-8 jam
8Sarung tangan medis8 jam
9Karton/ Kardus24 jam
Kemampuan bertahan virus corona di berbagai benda

Sumber:

  • Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 2020. Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan Usaha Wisata Selam, Edisi Agustus 2020.
  • GridHealth ID.
  • Wikipedia

Topik terkait lainnya :
Hebat! 10 Ikan Komersial ini menentukan Kesehatan Karang
Yuk Belajar Identifikasi Ikan Karang
Keanekaragaman Hayati
Barongsai Laut
Misteri Fluorescence Karang dan Fauna Laut
Menjadi Penyelam dan Menjelajah Dunia Bawah Laut


Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Weh island- Aceh, Mandeh waters - Padang, Riau islands and Belitung waters, in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, and Tanah Bumbu Regency in Kalimantan region, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liqui├ža in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.