1,924 total views,  4 views today

Setelah mengajukan surat perijinan untuk melakukan penelitian di kantor Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi, penulis bersama lima orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor dan Universitas Nasional Jakarta yang tergabung dalam Kelompok Pecinta Penyu, menuju arah selatan, tepatnya ke Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi Selatan.

Perjalanan darat dengan menggunakan Jeep kami tempuh kurang lebih dua jam. Sebelum gelap kami telah tiba di kantor  Balai Taman Nasional Alas Purwo dan melaporkan maksud kedatangan kami. Setelah istirahat sebentar kami segera mencari warung terdekat di desa Kendalrejo, mencari bahan makanan dan peralatan lain yang akan kami gunakan selama di pantai.

Menuju pantai Triangulasi harus melewati beberapa bagian hutan Alas Purwo yang pekat. Sesekali kami berpapasan dengan satwa malam yang mulai mencari makan. Menyaksikan beberapa pasang mata yang menatap ke arah kami, membuat kami ingin secepatnya sampai ke pantai.

Malam pertama kami menginap di Pesanggrahan yang khusus disediakan bagi para pengunjung pantai tersebut. Malam itu tidak banyak yang kami kerjakan, setelah memperkenalkan diri pada petugas disana kami langsung menuju ke pembaringan untuk melepas penat. Tengah malam kami terbangun karena terdengarnya suara-suara di luar pesanggrahan, namun tidak ada di antara kami yang berani memastikan suara apakah itu. Baru keesokan paginya kami melihat banyak jejak-jejak hewan yang kalau dilihat dari bentuk dan ukurannya merupakan jejak-jejak banteng, kucing hutan dan macan tutul.

Pagi itu kami mengawali kegiatan dengan berjalan menyusuri pantai Triangulasi yang merupakan bagian dari rangkaian pantai-pantai Plengkung, Muncar, Ngagelan, dan Grajagan yang menghadap ke Teluk Grajagan. Kami mulai dengan mencari makroalga apa yang hidup di perairan tersebut dengan cara mengumpulkan alga-alga yang terdampar di pantai. Kami juga mengiventarisasi vegetasi darat yang tumbuh di pantai tersebut. Setelah berjalan beberapa saat kami berhasil menemukan adanya bekas tracking atau jejak penyu yang mendarat dua hari sebelumnya. 

Malam berikutnya kami mulai melakukan lalar – yaitu melakukan penyusuran pantai untuk mencari penyu yang akan bertelur. Kami ditemani seorang petugas dari Balai Taman Nasional Alas Purwo – mas Sumarni. Lalar dimulai sekitar pukul 22:00 dan dibagi dua kelompok. Selama lalar kami saling bertukar pengalaman dan pandangan khususnya mengenai masalah kehidupan penyu, yang bagi kami mempunyai kisah yang berlainan kenapa bergabung dalam Kelompok Pecinta Penyu ini.

Ai’ – panggilan akrab Arif Pranata dari Unnas mempunyai alasan tertarik pada kehidupan penyu karena membantu peneiltian rekannya di pulau Penjaliran, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Meilia dari IPB mempunyai alasan karena ingin cepat menyelesaikan studinya. Lepas dari latar belakang yang berbeda, kami mengetahui dan menyadari bahwa penyu laut terutama yang hidup di Indonesia sedang mengalami proses degradasi populasi yang hebat, disebabkan banyaknya masyarakat yang memburu binatang laut ini.

Penyu laut dalam klasifikasinya termasuk Kelas Reptilia dalam Ordo Testudinata, adalah binatang yang sebagian besar hidupnya berada di laut. Keberadaannya hanya selama fase tukik (anak penyu) dan waktu akan bertelur saja. Penyu laut yang hidup di perairan Indonesia menurut Ismu Suwelo ada enam jenis, yaitu Penyu Hijau – Green Turtle (Chelonia mydas), Penyu Sisik – Hakwsbill Turtle (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang – Olive Ridley Turtle (Lepidochelys olivacea), Penyu Karet/ Tempayan – Loggerhead Turtle (Caretta caretta), Penyu Belimbing/ Raksasa – Leatherback Turtle (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih – Flatback Turtle (Natator Depressa).

Penyu laut sebagai biota laut mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Beberapa restoran menyediakan hidangan masakan yang mempunyai harga relatif mahal. Juga telur penyu laut yang merupakan bahan makanan yang mempunyai kandungan protein tinggi. Hal lain yang menyebabkan penyu laut banyak diburu adalah sisik karapasnya yang dapat dibuat sebagai perhiasan yang mahal harganya. Opsetan penyu laut merupakan bahan ekspor yang sangat laku di luar negeri. Disamping itu penyu juga menghasilkan minyak penyu yang digunakan sebagai  bahan ramuan kosmetika. Hal-hal tersebut merupakan alasan mengapa banyak masyarakat yang gemar memburu penyu laut tanpa memperhatikan kelestariannya.

Ancaman bagi kehidupan penyu:

Pantai Triangulasi merupakan salah satu pantai di Indonesia yang digunakan oleh beberapa jenis penyu untuk bertelur. Penyu-penyu yang bertelur tersebut antara lain: Penyu Lekang, Penyu Belimbing, Penyu Hijau, dan Penyu Sisik. Untuk dapat menjumpai penyu yang bertelur kami harus lalar sekitar 5 kilometer sepanjang pantai Triangulasi setiap malam, mengingat bulan September merupakan saat penyu-penyu sudah jarang naik ke pantai untuk bertelur. Pada bulan September hanya jenis penyu Belimbing saja yang melakukannya.

Pada malam ketujuh kami di pantai Triangulasi, kami berhasil menemukan seekor penyu yang akan bertelur di pantai. Diawali terlihatnya sebuah garis hitam yang tampak dari jauh. Semakin dekat garis itu semakin nyata sebagai sebuah jejak penyu, yang kalau dari dekat mirip dengan jejak kendaraan berat untuk perang : yaitu jejak tank. 

Setelah dekat kami mencari posisi penyu yang akan bertelur tersebut di bagian pantai yang dekat dengan vegetasi. Selama beberapa saat kami belum berhasil menemukan penyu tersebut. Ternyata penyu tersebut setelah naik tidak langsung membuat lubang karena belum menemukan tempat yang cocok untuk bertelur. Penyu tersebut berjalan jauh dari tempatnya naik dari laut.Rekan kami Hasbi dari Unnas Jakarta sangat terkejut menjumpai penyu yang akan bertelur tersebut mempunyai ukuran raksasa (baca: sangat besar).

Baca juga : Profil Pekerjaan

Agar penyu tersebut tidak membatalkan niatnya untuk bertelur, kami mengamatinya dari belakang dan tidak melakukan suatu apapun terhadap penyu tersebut. Penyu yang akan bertelur tersebut merupakan penyu dari jenis yang mempunyai ukuran raksasa, yaitu penyu Belimbing atau Leatherback turtle dalam bahasa Inggris. Setelah menemukan lokasi yang cocok, penyu tersebut mulai membuat lobang untuk bertelur. Dengan menggunakan keempat sirip dayungnya yang besar menggali pasir selama sekitar setengah jam. Kami terus mengamati tingkah lakunya selama bertelur. Telur yang dikeluarkannya tiga butir sekaligus berurutan. Saat penyu tersebut bertelur kami melakukan beberapa pengamatan terhadap beberapa aspek biologinya, antara lain panjang karapas, panjang flipper – sirip dayung dan lain sebagainya. 

Beberapa hal menarik dari penyu Belimbing antara lain bentuk pelindung bagian punggungnya yang berbeda dengan penyu jenis lain. Disebut penyu belimbing karena mempunyai karapas yang bentuknya menyerupai buah belimbing, yang terdiri dari tujuh buah garis yang memanjang dari atas ke bawah. Penyu ini juga mengeluarkan cairan sejenis air liur dari mata dan duburnya. Adanya sejenis teritip yang hidup menempel di kulit karapasnya merupakan sebuah pertanyaan yang perlu ditelusuri lebih jauh karena karapas penyu ini sangat halus dan licin. 

Proses bertelur penyu Belimbing dari naik sampai kembali ke laut membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Tingkah laku selama bertelurnya merupakan suatu kejadian yang jarang dapat dijumpai di bumi ini. Penyu ini merupakan jenis paling langka yang sekarang hidup, dan merupakan jenis yang diduga mempunyai hubungan paling dekat dengan leluhurnya sebagi hewan purba yang masih dapat bertahan sampai sekarang. Setelah mengamati proses bertelur penyu ini, kami tak lupa mengabadikannya untuk kami laporkan.

Beberapa hari setelah malam tersebut kami tidak menjumpai lagi penyu yang bertelur. Ternyata malam itu menjadi malam yang penting dan terindah bagi kami karena dapat bertemu dan bergumul dengan seekor mahluk yang datang dari tempat jauh dan dalam. Malam itu meupakan awal bagi kami untuk mencari suatu cara membantu memulihkan populasinya yang semakin terancam di alam. Kami tidak tahu apakah anak cucu kita akan masih dapat melihat mahluk ‘raksasa’ ini ataukah tinggal sebuah cerita sebelum tidur. Hanya dengan kerja keras dan berkesinambunganlah anak cucu kita dapat menikmatinya.

Andreas Muljadi – Mahasiswa PS IK UNDIP Angkatan ’89
Peneilitian PKL tentang penyu di Banyuwangi

Ditulis kembali dari Majalah Abyss No. 3 Tahun 2 – Nopember 1993

In Memoriam Bapak Ponihadi (Ahli Penyu dari Alas Purwo) & Arif Pranata

 


Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Weh island- Aceh, Mandeh waters - Padang, Riau islands and Belitung waters, in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, and Tanah Bumbu Regency in Kalimantan region, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*