6,280 total views,  97 views today

Sering kita mendengar ada banyak keindahan dapat dijumpai saat menyelami terumbu karang di Indonesia. Namun pernahkah anda menjumpai langsung penghuni terumbu karang, yang karena keindahannya menyebabkan keberadaannya terancam punah dan semakin sulit dijumpai.

Ikan Napoleon atau Maming dan beberapa nama lokal seperti Siomay, ikan Lema atau Lemak, Nuri-Nuri, Laraluca, Mengkait, Ketipas, Bele-bele, Licin, merupakan ikan dalam kelompok Family Labridae dengan nama ilmiah Cheilinus undulatus. Dalam Bahasa Inggris dikenal beberapa nama, antara lain Humphead Wrasse, Napoleon Wrasse dan Maori Wrasse.

Ikan Napoleon merupakan salah satu ikan terumbu karang yang paling terancam punah di dunia, dikarenakan keindahan warna dan bentuknya yang unik, tetapi ikan ini juga merupakan makanan lezat untuk pengunjung Cina yang kaya.  Keberadaannya yang semakin langka di habitatnya dan harga yang dibanderol tinggi, hingga 850USD per kilo di restoran Hong Kong, makin membuat tambah menarik bagi mereka yang mampu membelinya.

Ikan Napoleon dalam Ancaman Kepunahan:

Ikan Napoleon merupakan ikan karang yang memiliki bentuk badan lonjong dan pipih dan memiliki warna menarik, hijau keabu-abuan dan warna kuning hingga hijau kebiruan dengan corak unik dibagian pipi, dahi dan kepalanya. Corak ini dipakai sebagai motif Tatoo suku Maori di Tenggara Australia, sehingga ikan napoleon ini juga dikenal sebagai Maori Wrasse. Ikan Napoleon dapat mencapai ukuran panjang total 200 cm dan berat dapat mencapai 190 kg serta berumur 50 tahun. Umumnya mencapai dewasa seksual pada ukuran 50 cm atau usia sekitar 5 tahun. Ikan Napoleon kecil hidup diantara karang bercabang dan semakin besar akan menjauhi karang. Selain memakan hewan karang lain seperti bulu babi dan udang, ikan Napoleon juga diketahui memakan bintang laut mahkota berduri yang memakan polip karang, sehingga keberadaan ikan Napoleon menjadi penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan pada terumbu karang.

Tahun 1995 sampai 2005 merupakan tahun-tahun puncak bagi perdagangan ikan Napoleon dalam bagian perdagangan ikan karang hidup untuk memenuhi pasar ikan hidup di HongKong dan negeri lainnya. Penangkapan ikan Napoleon terjadi dimana-mana, dari kepulauan Riau, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua.

Ikan Napoleon dari berbagai pulau :

Ikan Napoleon umumnya berada di kedalaman 10 hingga 35 meter, namun juga dijumpai di kedalaman lebih dari 60 meter. Kegiatan pemantauan kesehatan terumbu karang dilakukan pengelola Kawasan Konservasi Perairan bekerja sama dengan lembaga penelitian, universitas dan lembaga swadaya masyarakat, bertujuan mengumpulkan informasi status tutupan karang hidup dan biomassa ikan komersial di tiap perairan. Dalam waktu 10 tahun terakhir lokasi-lokasi yang masih dijumpai ikan Napoleon di habitatnya, antara lain Belitong, Kepulauan Seribu, Bali, Komodo, Sabu, Sulabesi, Kepulauan Banda Neira, Kepulauan Lease dan Kepulauan Raja Ampat. 4 lokasi terakhir bisa dikatakan memiliki habitat dan pengelolaan yang mendukung kehidupan ikan Napoleon sehingga penurunan populasi secara cepat bisa ditekan.

Ikan Napoleon berkembang biak dengan memijah di air :

Saat ini pemerintah Republik Indonesia mengatur perlindungan ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 37/Kepmen-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus). Ikan Napoleon dengan ukuran tertentu, yaitu antara 100-1000 gram dan di atas 3000 gram merupakan hewan yang dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan. Kegiatan penelitian diijinkan dengan persyaratan yang diatur.

Tingginya permintaan dan harga ikan Napoleon di pasar luar negeri membuat kegiatan perdagangan ilegal merubah strategi. Selain longgarnya pengawasan terhadap sistem penetapan kuota ekspor ikan napoleon, peneliti dari Hongkong melihat adanya kegiatan ‘pencucian ikan’ dalam perdagangan ikan Napoleon. Peneliti: “Saya kebetulan melewati sebuah restoran, dan saya hanya melihat satu ikan di restoran itu. Dan ini berlangsung selama berminggu-minggu, dan itu tidak masuk akal, karena saya tahu bahwa ikan ini hanya ada di restoran ini selama beberapa minggu (jika ikan yang sama), dan mereka mati. Mereka tidak hidup dengan baik di restoran. Tetapi selalu ada ikan berukuran sama di restoran, bahkan untuk beberapa bulan”. Hal tersebut menggelitik minat peneliti tersebut dan mulai mengambil foto wajahnya, dan ia terpesona oleh tanda-tandanya yang indah. Ia perhatikan bahwa tandanya berbeda. Akhirnya peneliti tersebut menyadari terjadi ‘pencucian’ ikan.

Peneliti: Ikan Napoleon, misalkan salah satunya keluar dari Indonesia. Ini memiliki izin ekspor, itu legal. Itu datang ke Hong Kong, memiliki izin impor, itu legal. Itu masuk ke toko, dan toko itu memiliki izin kepemilikan, yang harus dimiliki, dan harus terlihat oleh publik. Ini sah. Itu menjual satu ikan itu. Tidak ada ikan lagi. Jadi ikan ilegal masuk. Ini menempatkan ikan ilegal di tempat ikan legal. Siapa yang akan tahu kecuali Anda benar-benar telah menandai ikannya? Dan mungkin memang begitu banyak perdagangan ilegal yang dilakukan untuk ikan Napoleon ini di Hong Kong.

Apabila penjual dari Indonesia mencapai kuota 2.000 ikan, ada dugaan mereka terus menyelundupkan ikan Napoleon ke Hong Kong. Segera setelah ikan mencapai tangki ikan di Hong Kong, pihak berwenang tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah ikan tersebut melebihi kuota dan ditangkap secara ilegal. Masih diperlukan kerja keras selain meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membeli ikan dari budidaya melalui kampanye di restoran yang menghidangkan makanan dari laut, juga kontrol terhadap perdagangan dan penegakan aturan. Disisi lain pengumpulan data populasi ikan Napoleon di habitatnya serta pengelolaan kawasan perairan melalui zonasi merupakan usaha penting yang harus didukung untuk mengetahui status populasi ikan Napoleon di perairan kita. Beberapa penelitian dan pengamatan di lapangan menunjukkan populasi ikan Napoleon semakin menurun drastis dan sulit menjumpai ikan ini saat melakukan penyelaman. Kepunahan ikan ini hanya dapat dihentikan dengan usaha bersama para pihak, pengusaha restoran, eksportir ikan, nelayan, pemerintah dan peneliti.

Pemantauan populasi ikan Napoleon :

Topik terkait lainnya :
Hebat! 10 Ikan Komersial ini menentukan Kesehatan Karang
Memanggil ikan dengan Suara dan Cahaya
Ikan Matahari dari Nusa Penida
Barongsai Laut
The Story of the Net from the Ocean
Bulu Babi Selayang Pandang

Categories: Publication

Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Weh island- Aceh, Mandeh waters - Padang, Riau islands and Belitung waters, in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands, and Tanah Bumbu Regency in Kalimantan region, Wakatobi National Park, Gorontalo waters, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 advance and open water divers.