1,360 total views,  23 views today

Tidak banyak orang mengenal atau mendengar nama pulau Batek, pulau yang terletak di perairan selat Ombai – laut Sawu di utara pulau Timor ini merupakan salah satu pulau terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau seluas 16,77 hektar ini hanya dihuni oleh petugas lampu navigasi dan beberapa anggota pasukan penjaga perbatasan.

Pulau Batek dalam bahasa setempat dikenal sebagai Fatu Sinai, memiliki pantai bertebing dan juga pantai berpasir putih. Adanya pepohonan yang tumbuh subur membuat pulau ini didiami fauna diantaranya Elang Jawa serta pasir putih nya cocok bagi penyu Sisik untuk bertelur.

Perairan pulau Batek memiliki terumbu karang yang kaya dan dan indah. Kekayaan jenis biota yang hidup di terumbu karang nya antara lain beraneka jenis karang keras dan lunak serta beraneka ikan karang berwarna warni. Semua ini membuat pulau Batek dan perairannya bagaikan surga yang  sedang menantikan bidadari kembali dari bumi.

Baca juga : Menjadi Penyelam dan Menjelajah Dunia Bawah Laut

Saat ini pulau Batek merupakan zona inti dari Kawasan Taman Nasional Perairan Laut Sawu yang bertujuan menjaga keaslian ekosistem perairan dan stok perikanan di dalamnya. Dengan terjaganya lumbung ikan dan rumahnya, diharapkan perairan pulau Batek ini dapat menyumbangkan generasi baru, baik ikan dan larva karang yang unggul bagi perairan disekitarnya. Hasil pengamatan ahli kelautan perairan pulau Batek merupakan tempat berkumpul bagi ikan kuwe dan ikan karang lainnya. Dengan adanya aliran arus laut yang kuat akan membantu menyebarkan telur-telur dan larva ikan ke perairan ini dan sekitarnya, sehingga akan memberikan manfaat bagi usaha perikanan di masa depan.

Ancaman penangkapan ikan secara ilegal dapat dikurangi dengan membangun pos jaga terpadu yang dilengkapi fasilitas dan logistik yang memadai sehingga para petugas baik pasukan penjaga perbatasan maupun petugas Taman Nasional Perairan Laut Sawu dan menjalankan tugas yang mulia disana dengan baik.


Kafe Penyelaman

The founder is a marine biologist and a dive instructor. He experiences in marine conservation especially on bio-physic data collection such as reef health monitoring, fish spawning aggregation site survey, marine large fauna survey, occasional observation and marine resource utilization assessment. Also experience on training related scientific diving, bio-physic monitoring, geographic information system, data analyzing and reporting, marker buoys installation, underwater photography and coral rehabilitation, such in Riau islands and Belitung waters, and Weh island in Sumatera region, Krakatoa Marine Sanctuary, Seribu islands National Park and Karimunjawa National Park in Jawa region, Derawan, Sangalaki and Kakaban islands in East Kalimantan, Wakatobi National Park, Bunaken National Park and Lembeh strait in Sulawesi region, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo waters, Flores, Adonara, Lembata, Pantar, and Sawu Sea National Park in Lesser Sunda Region, Halmahera and Morotai waters in North Maluku region, Ambon waters, Lease islands and Banda islands in Maluku region, Kaimana, Raja Ampat waters and Teluk Cenderawasih National Park in West Papua region, Tioman Marine Park and Tun Sakaran Marine Park in Malaysia, Atauro island and Liquiça in Timor Leste, Phuket in Thailand, Kehpara Marine Sanctuary in Pohnpei, Micronesia, Gladden Spit Marine Sanctuary and Half Moon Cay Marine Park in Belize. Experience as a scuba diver instructor with more than 5000 dives and trained more than 200 open water divers.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*